Lembaga Sensor Film
header
LEMBAGA SENSOR FILM ADAKAN WEBINAR MENGENAI SISTEM PEMANTAUAN TAYANGAN MEDIA BERBAYAR

Jakarta – Maraknya penggunaan tayangan berbayar selama ini menjadi dasar Lembaga Sensor Film Republik Indonesia menyelenggarakan webinar dengan tema, “Tayangan Media Berbayar dan Sistem Pamantauannya” pada Jumat (3/7) pukul 09.00 s.d. 11.00 melalui aplikasi pertemuan daring dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube LSF.

Ketua Komisi I DPR RI,  Meutya Viada Hafid, hadir dalam webinar tersebut sebagai pembicara kunci. Dalam salam pembukanya Meutya Hafid menyampaikan apresiasi terhadap LSF yang telah mengadakan acara terkini dengan topik yang menarik dan menjadi perhatian yaitu media berbayar yang sedang marak penggunaannya sekarang.

 “Sejak munculnya pandemi Covid-19, tayangan media berbayar semakin menggeliat. Kehadiran media berbayar seperti Netflix, Viu, Hooq dan yang lainnya membawa dilema, tak terkecuali bagi pemerintah dan legislatif. Di satu sisi, film-film dengan alur cerita, gambar dan suara berkualitas banyak ditawarkan,” ujar Ketua Komisi I DPR RI. Disisi lain Meutya Hafid juga mengkhawatirkan ancaman akan film asing yang kerap tidak sejalan dengan nilai budaya Indonesia. Perlu adanya sistem pemantauan yang jelas terhadap tayangan-tayangan yang disajikan hingga peraturan yang tegas terkait kehadiran film yang dimaksud.”

Meutya Hafid menambahkan, LSF mempunyai peran strategis untuk melakukan pengawasan isi film dengan melakukan fungsi sensor secara baik dan tepat. Lebih lanjut, negara dan berbagai pihak diharapkan memiliki peran untuk memperhatikan eksistensi film nasional melalui kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang lebih baik lagi, tanpa menyampingkan aspek ekonomi dari tayangan media berbayar.

Webinar tersebut juga dihadiri oleh beberapa narasumber diantaranya adalah M. Farhan, Anggota Komisi I DPR RI dan Ahmad Mahendra Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru yang menggantikan kehadiran Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud yang berhalangan hadir.

Dalam pemaparannya M. Farhan menyampaikan poin dan sudut pandang yang menarik. “Sensor memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah menjaga kualitas tontonan pada masyarakat, mengantisipasi tayangan yang dapat merusak kepribadian bangsa, melanggar nilai dan norma. Dampak negatifnya adalah membatasi ekspresi. Adanya standar sensor dari LSF, dapat menjadi rambu bagi kreator film untuk tidak dilanggar dalam membuat film untuk masyarakat. Dan tugas LSF memastikan bahwa kategorisasi usia film dapat dimengerti oleh masyarakat, sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang edukatif.” ujar M. Farhan.

Kegiatan webinar yang dibuka oleh Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto dan ditutup oleh Ketua Komisi II LSF Ahmad Yani Basuki ini, dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta yang bergabung melalui aplikasi pertemuan daring dan siaran langsung di kanal Youtube LSF. (*)

Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.